Iklan Atas Mata Ikan

Dosen, Mahasiswa Dan Klorofil Rumput Laut
4/ 5 stars - "Dosen, Mahasiswa Dan Klorofil Rumput Laut" Halo, apa kabar ? Hari ini saya tidur panjang. Cukup panjang untuk melepas penat sehabis membuat resume puluhan jurnal berbahasa inggris. Se...

Dosen, Mahasiswa Dan Klorofil Rumput Laut

Mata Ikan
Rumput Laut Gracilaria

Halo, apa kabar ? Hari ini saya tidur panjang. Cukup panjang untuk melepas penat sehabis membuat resume puluhan jurnal berbahasa inggris. Sejak memutuskan lanjut studi S2, banyak hal yang saya abaikan. Salah satunya blog ini.

Hampir setahun mataikan.id tidak terurus dan tergeletak begitu saja. Saya kesulitan meluangkan waktu dan fokus untuk menulis artikel. Sebagai seorang mahasiswa yang tak pernah merasakan nikmatnya beasiswa, saya harus menyibukkan diri mencari biaya hidup di sela-sela gempuran tugas kuliah.

Sekarang saya berusaha beradaptasi mengerjakan berbagai macam hal secara beriringan. Saya kembali ke sini dengan satu kisah nyata perdebatan antara seorang Dosen, Doktor jebolan kampus besar di Jerman, dengan Mahasiswa Pascasarjana, S1 jebolan kampus kecil di Timur Indonesia.
.....

Pagi itu kelas dimulai seperti biasa. Semua orang sudah menempati posisi favoritnya. Saya duduk di barisan belakang, di ujung sebelah kanan. Wajib sebelah kanan. Dulu wakti kecil, Ibu sering bilang "Segala yang berhubungan dengan kebaikan dan kemuliaan hendaknya dimulai dari sebelah kanan". 

Posisi duduk ini paten. Nanda dan Bang Raymond pasti duduk di barisan depan. Shifa dan Bayu di Barisan Tengah. Empat nama tadi termasuk jenis mahasiswa puncak piramid. Fokus tinggi, penuh rasa penasaran dan selalu bisa menjawab dengan tepat.

Entah kenapa, di kelas Pak AD saya berusaha keras menjadi mahasiswa puncak piramid. Saya menyimak apapun yang dia lakukan di depan sana. Apapun. Mulai dari cara membuka penutup spidol sampai kegemarannya mengucapkan kata "Temperate" berulang-ulang dalam aksen yang aneh.

Dua jam lebih Pak AD memberi penjelasan tentang tipikal estuari tropis/subtropis, alur masukan nutrien dalam perairan dan proses eutrofikasi. Tiba di pembahasan blooming algae dia melontarkan pertanyaan kesekian "Ada berapa jenis klorofil pada rumput laut?"

"Empat pak," saya menjawab dengan penuh keyakinan. 

"Ngawur kamu," katanya. Suasana kelas menjadi hening.

"Memang empat pak," saya menimpali.

Mahasiswa lain yang duduk di barisan depan dan tengah serempak menoleh. Tatapan mereka seperti berkata "Lawan mal, jangan kendor!". Ini persis adegan saat Jendral Maximus disoraki penonton colloseum ketika berduel dengan Kaisar Commodus.

"Saya Doktor di bidang Klorofil. Jenis klorofil itu cuma tiga. Klorofil -a, -b dan -c," katanya. Posisi badan Pak AD semakin tegap. Dia maju beberapa langkah sembari menunjuk saya dengan spidol "Coba tunjukkan paper tentang itu!"

"Ini pak," saya mengangkat HP berisi tampilan satu paper di jurnal Elsevier Trends in Plant Science karya Anthony W.D. Larkum & Michael Kuhl, yang menunjukkan keberadaan klorofil -d (chl -d) sebagai jenis klorofil keempat. 

Tidak ada tanggapan lebih lanjut. Kelas berakhir. Saya keluar paling awal dan bergegas menuju kantin. 

Di tengah perjalanan saya teringat kutipan Cory Doctorow, penulis novel Little Brother.  Pada satu sesi wawancara terkait gugatan hukum Springer dan ScienceDirect terhadap Sci-hub dan Libgen, dia berujar :

"Jika ilmumu tidak terbuka pada tanggapan dan sanggahan. Coba periksa kembali, mungkin itu bukan ilmu tapi omong kosong."
.....

Saya selalu sependapat jika ada yang bilang menjadi dosen/guru/pengajar itu tidak mudah. Sama halnya saat saya juga meyakini kalau menjadi mahasiswa bukan perkara mudah, apalagi jika harus berurusan dengan tipe dosen konservatif seperti kisah di atas.

Lalu bagaimana rasanya menjadi klorofil ?

Yang Baru Mata Ikan

Lihat semua

Subscribe Sekarang