Iklan Atas Mata Ikan

Berburu Buku-Buku Murah di Pasar Wilis Malang
4/ 5 stars - "Berburu Buku-Buku Murah di Pasar Wilis Malang" Bagian terpenting yang membuat saya ngiler dan bersedia ikut ke Malang adalah berburu buku di Pasar Wilis. Tempat ini terkenal dengan kol...

Berburu Buku-Buku Murah di Pasar Wilis Malang

Mata Ikan

Bagian terpenting yang membuat saya ngiler dan bersedia ikut ke Malang adalah berburu buku di Pasar Wilis. Tempat ini terkenal dengan koleksi buku-buku langka nan murah.

Saya dan beberapa teman diberangkatkan ke Malang dalam rangka menghadiri Kongres Luar Biasa Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (HIMAPIKANI) di kampus Universitas Muhammadiyah Malang.

Dibilang menunggangi tidak juga. Saya mengikuti hampir semua rangkaian kegiatan kecuali satu; seminar berbayar. Saya sudah terlanjur niat buat beli buku bukan sertifikat seminar.

Menuju Pasar Wilis dari UMM harus jalan kaki dulu ke terminal Landungsari, biar hemat. Dari sana baru naik angkot berkode LG.

Pesan teman saya Rahmat Al Kafi (Ketua IKAMI Sulsel Cabang Malang), "Ingat naik angkot yang kodenya LG, jangan yang GL !". Memang beda yah ?

Sampai di Pasar Wilis, saya langsung memulai perburuan. Tidak butuh waktu lama untuk menemukan target.

Di lapak pertama, saya berhasil mendapatkan buku John Perkins; Confessions of an Economic Hitman edisi Indonesia terbitan tahun 2005.

Kondisi buku masih baru dan terbungkus plastik. Harganya cuma 15 ribu, tanpa proses tawar menawar.

Di lapak berikutnya, saya menemukan salah satu novel keren terbitan Hikmah, Mizan Publika, tahun 2007 karya Chinua Achebe; Things Fall Apart, lagi-lagi dengan harga 15 ribu.

Oh Tuhan apa yang sebenarnya terjadi di sini ? Padahal di sampul buku tertulis sangat jelas "One of Time's Best 100 Novels".

Saya melanjutkan perburuan, berpindah dari satu lapak ke lapak yang lain sampai akhirnya menemukan novel pesanan Layosibana Akhirun, Rumah Kaca, karya Pramoedya Ananta Toer seharga 35 ribu.

Dibanding dua buku sebelumnya, novel Pram memang agak sedikit mahal. Buku-buku yang sering ditanyakan dan dicari pembeli cenderung dihargai tinggi.

Di Wilis, buku-buku baru atau lama yang most popular versi penjual pasti diletakkan di bagian atas. Soal harga tentu berbeda dengan buku-buku yang ditumpuk begitu saja di bagian bawah.

Nah, buku-buku di bagian bawah ini yang banyak membuat saya tertarik, harganya lebih miring dan kadang jika beruntung sering terselip buku-buku keren.

Berburu di pasar buku manapun, prinsipnya hampir sama; pertama, jangan bertanya tentang buku yang kalian cari. Cukup pasang gaya seperti pejabat yang lagi sidak pasar.

Kedua, jangan sekali-sekali menunjukkan antusiasme yang berlebihan pada buku yang kalian inginkan, jika tidak ingin harganya mendadak naik.

Ketiga, ini yang terpenting keep making a lowest bid till the end. Jangan sok kaya dan gengsi menawar kalau sekali sehari, kalian masih makan mie instan.

Lumayan, setelah dua jam berburu, di lapak terakhir saya berhasil mendapatkan lima buku keren dengan harga seratus tiga puluh ribu;

  1. Sindhunata; Sakitnya Melahirkan Demokrasi,
  2. Alan Lightman; Mimpi-Mimpi Einstein, 
  3. Budi Darma; Olenka,
  4. Afrizal Malna; Lubang dari Separuh Langit,
  5. Martin Lunn; Da Vinci Code Decoded.

Worth it gak ? Dibanding pasar buku di kota-kota lain, harga buku di Wilis tergolong murah. Cuma kalah dari Gondomanan, Jogja.

Tapi di Wilis, stok dan genre buku lebih bervariasi. Buktikan sendiri !

Yang Baru Mata Ikan

Lihat semua

Subscribe Sekarang